Peringatan HUT Kemerdekaan RI 2016: Antara Jateng.com


Sabtu, 13 Agst 2016 19:56:48 WIB
Pewarta: M Hari Atmoko

Sejumlah santri membawa tumpeng dengan puncaknya ditancapi bendera Merah Putih saat prosesi “Angka Wijaya” Festival Kali Kota 2016, memperingati HUT Ke-71 RI di Kampung Potrosaran, Kelurahan Potrobangsan, Kota Magelang, Sabtu (13/8). (Hari Atmoko/dokumen).

Magelang, Antara Jateng – “‘Jamas pitung kembang swarga. Warna abang geni, genine kawah Candradimuka. Jamas, jamas, jamas kalimasada. Ngilangake angkara murka lan nepsu ati. Supaya putih, putih, putih. Sucine ati saka kersane Allah’,” demikian rapalan prosesi ritual “Angka Wijaya”.

Pitutur tersebut diungkapkan pemimpin Padepokan Gunung Tidar Kota Magelang, Jawa Tengah, Es Wibowo, saat memimpin prosesi untuk Festival Kali Kota 2016 untuk menyongsong HUT Ke-71 RI di daerah setempat, Sabtu (13/8).

Terjemahannya, yakni “Jalan penyucian tujuh bunga api. Apinya kawah Candradimuka. Penyucian kalimasada menyirnakan angkara murka dan nafsu amarah. Supaya jiwa raga bersih dan suci. Kesucian hati karena anugerah Allah”.

Prosesi berlangsung di aliran Kali Kota, sodetan Sungai Manggis hingga seakan membelah Kota Magelang dan menjadi pusat aktivitas seni dan budaya warga Padepokan Gunung Tidar di Kampung Potrosaran, Kelurahan Potrobangsan, Kecamatan Magelang Utara.

Ratusan orang yang antara lain beberapa warga setempat, para santri Pondok Pesantren Selamat Desa Jambewangi, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, yang dipimpin KH Abdul Rosyid Ahmad, dan puluhan mahasiswa setempat terlibat dalam prosesi melewati jalan kampung itu hingga tepian alur Kali Kota.

Begitu hujan sejak pagi hari yang membasahi tanah Kota Magelang reda, mereka mulai melakukan prosesi tersebut dipimpin Es Wibowo. Ia memacak diri sebagai tokoh pewayangan Semar, sedangkan seorang warga lainnya bernama Panglima Zufar Wibowo yang berperan sebagai tokoh Angka Wijaya dalam dunia wayang.

Pelaksanaan prosesi jalan kaki itu dengan iringan tabuhan rebana oleh para santri serta kemeriahan penari kuda lumping dari Kelompok “Krida Turangga Seta” Kelurahan Potrobangsan.

Prosesi juga ditandai oleh mereka yang membawa tiga tumpeng nasi kuning dengan aneka sayuran dan lauk-pauk sebagai pelengkapnya. Setiap puncak tumpeng, ditancapi bendera Merah Putih ukuran kecil.

Sebanyak empat mahasiswa perguruan tinggi swasta setempat memikul tandu berbentuk gubuk bambu berisi ikan yang dilepaskan di Kali Kota, sedangkan sejumlah orang membawa tampah beralas daun pisang dengan isi beberapa pincuk jenang warna merah dan putih, serta tujuh santri putri masing-masing membawa tampah berisi aneka sayuran dan buah-buahan.

Selain itu, sejumlah santri putri lainnya membawa bunga mawar warna merah dan putih dalam keranjang terbuat dari anyaman bambu.

“Mereka memanfaatkan momentum peringatan HUT RI tahun ini untuk merefleksikan makna kehidupan setelah kemerdekaan dicapai Bangsa Indonesia,” ucap pemerhati budaya Kota Magelang Budiyono yang terlibat dalam acara budaya dengan keikutsertaan pula sejumlah sesepuh kampung, termasuk Ketua RT03/RW01 Potrosaran, Habibur.

Seolah-olah suasana getaran semangat kemerdekaan dialirkan kepada semua orang yang ikut dalam prosesi, ketika Es Wibowo yang juga penyair Kota Magelang itu, dalam perannya sebagai Semar turun ke Kali Kota lalu merapalkan jamasan.

Berbagai tabuhan musik pengiring prosesi berhenti dan semua berdiri berjajar menghadap ke arah aliran air kali. Sang Semar pun kemudian menaburkan bunga mawar warna dan putih sambil mengucapkan rapalannya.

Kiai Rosyid dengan menggunakan bahasa Jawa memimpin doa syukur atas 71 tahun kemerdekaan yang telah dicapai seluruh warga bangsa.

Ia juga mengajak berbagai kalangan masyarakat berdoa untuk para pendiri negeri dan pejuang kemerdekaan yang telah berkorban jiwa serta raga untuk kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

“Kemerdekaan sungguh berarti untuk membangun hidup yang bermartabat dan sejahtera. Untuk generasi kepemimpinan bangsa dan negara agar dapat menjalankan amanah yang mulia,” ujarnya.

Salah satu tokoh pewayangan dari keluarga Pandawa, Angka Wijaya, yang dihadirkan dan menjadi tema prosesi itu, menurut Es Wibowo, karena sosok tersebut menjadi inspirasi atas kreasi budaya dalam Festival Kali Kota 2016.

Melalui sosok wayang itu, ia menegaskan tentang periodisasi pencapaian kemerdekaan Indonesia, yakni pada 1908 berupa Kebangkitan Nasional, 1928 berupa Sumpah Pemuda, dan 1945 berupa Proklamasi Kemerdekaan RI, setelah kolonalisme diruntuhkan oleh persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia.

“Angka Wijaya Perintis, Angka Wijaya Penegas, dan Angka Wijaya Pendobrak,” ujarnya.

Kalimat “Angka Wijaya” juga diartikannya sebagai angka kemenangan dalam periodisasi menuju kemerdekaan Indonesia.

“Ini memberi inspirasi bagi kami, bahwa semangat kemerdekaan selalu menggetarkan jiwa. Wujudnya menjadi usaha terus menerus mengangkat nilai-nilai moral, kearifan, keindahan, kegotong-royongan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” katanya.

Budiyono yang juga pengajar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tidar Kota Magelang itu, mengemukakan adanya carut-marut dalam pengelolaan suasana kehidupan merdeka sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia dirasakan masyarakat saat ini.

Ibarat air yang mengalir di alur kali, katanya, ia semestinya melewati jalan merdeka itu untuk mencapai kemerdekaan yang sejati, mewujudkan kehidupan bersama yang sejahtera, makmur, aman, adil, dan tenteram.

“Jangan sampai kemerdekaan yang telah diperoleh, kemudian diisi dengan berbagai kepentingan yang tidak tentu arah. Setiap orang harus menghargai satu sama lain, membangun kerukunan untuk maju bersama,” kata Budiyono yang juga mantan Ketua Dewan Kesenian Kota Magelang.

Kemerdekaan menjadi jalan leluasa setiap orang mengembangkan potensi dan mengekspresikan diri dalam tatanan nilai kemanusian, guna membangun kehidupan yang bermartabat.

“Kita merefleksikan kesadaran diri, jati diri untuk mencapai kemerdekaan yang sejati, di mana setiap orang bisa mengekspresikan diri dalam tatanan nilai kemanusiaan, ‘tepa selira’ (tenggang rasa), satu kebulatan pribadi-pribadi untuk membangun manusia yang lebih bermartabat,” katanya.

Getaran semangat kemerdekaan melalui prosesi “Angka Wijaya” mereka, tidak menyeruak dalam teriakan “Merdeka!”, sebagaimana para pejuang dan pendiri bangsa pada 71 tahun silam.

Akan tetapi, lantunan tembang “Sholawat Badar” diiringi tabuhan rebana para santri di atas aliran Kali Kota, seakan menjadi pujian doa dan pengharapan agar kemerdekaan dijalani seluruh warga bangsa menjadi jalan kesucian untuk kemaslahatan bersama.

“‘Ilahi fil Waakrimna, Minaili Maqoolibil Minna, Wadhof¿imasa ¿Atin Anna, Bi Ahlil Badri Ya Allah. Sholatullah Salamullah, `Alaa Thoha Rosulillah, Sholatullah Salamullah, `Alaa Yasiin Habibillah. Tawasalna Bibismillah, Wabil Hadi Rosulillah, Wakulli Mujahidin lillah, Bi Ahlil Badri Ya Allah’,” begitu tiga syair tembang islami yang mereka bawakan dengan terasa menggetarkan jiwa.

Terjemahannya kurang lebih, “Ya Allah, semoga Engkau menyelamatkan umat. Dari bencana dan siksa. Dan dari susah dan kesempitan. Sebab berkahnya sahabat ahli Badar ya Allah. Rahmat dan keselamatan Allah. Semoga tetap untuk Nabi Thoha utusan Allah. Rahmat dan keselamatan Allah. Semoga tetap untuk Nabi Yasin kekasih Allah. Ya Allah semoga Engkau selamatkan kami dari semua yang menyakitkan. Dan semoga Engkau menjauhkan tipu dan daya musuh-musuh. Dan semoga Engkau mengasihi kami. Sebab berkahnya sahabat ahli Badar ya Allah”.

Editor: M Hari Atmoko

COPYRIGHT © 2016