Ponpes Selamat Bekali Santri Keterampilan Wirausaha: AntaraJateng.com

Sejumlah santri Pondok Pesantren Selamat di perbatasan Kota dan Kabupaten Magelang melakukan pengibaran bendera Merah Putih di kompleks ponpesnya saat peringatan Hari Santri Nasional 2016, Sabtu (22/10). (Foto: Hari Atmoko/ANTARAJATENG.COM).
Sejumlah santri Pondok Pesantren Selamat di perbatasan Kota dan Kabupaten Magelang melakukan pengibaran bendera Merah Putih di kompleks ponpesnya saat peringatan Hari Santri Nasional 2016, Sabtu (22/10). (Foto: Hari Atmoko/ANTARAJATENG.COM).

Magelang, Antara Jateng – Pondok Pesantren Selamat (Sekolah Alam dan Kemanusiaan Terbuka) di kawasan perbatasan antara Kota dan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, membekali para santri yang berasal dari berbagai desa dengan keterampilan mengembangkan wirausaha.

Pimpinan Ponpes Selamat K.H. Abddurrosyid Ahmad sebelum memimpin para santrinya memperingati Hari Santri Nasional 2016 di Magelang, Sabtu, mengatakan berbagai keterampilan yang diajarkan kepada santrinya, antara lain pertukangan kayu dan batu, interior, kelistrikan, menjahit, pertanian hidroponik dan konvensional, serta perikanan.

“Untuk membekali, memberikan kesiapan lebih dini untuk generasi muda ini agar terampil dan mampu memenuhi kebutuhan secara mandiri. Supaya mereka kelak mengembangkan wirausaha mandiri,” katanya.

Ponpes Selamat yang didirikan sejak 2009 di areal seluas 2.000 meter persegi di Dusun Klontong, Desa Jambewangi, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang yang dibatasi aliran sungai dengan wilayah Kelurahan Kramat Utara, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang tersebut, saat ini memiliki 65 santri yang terdiri atas 34 putra dan 31 putri.

Para santri berasal dari desa-desa antara lain di Kabupaten Magelang, Semarang, Kebumen, Cilacap, dan beberapa lainnya dari Kota Magelang. Kompleks ponpes itu berupa sejumlah bangunan menggunakan bahan baku bambu yang masing-masing didirikan di atas kolam dengan di sekitarnya berupa pepohonan rindang.

“Untuk pendidikan formal, mereka menjalani paket ‘ula’ (setingkat SD), ‘wustha’ (SMP), dan paket C (SMA). Sekarang ada santri kami yang juga kuliah Semester III di Unsiq Wonosobo dan Semester V di IAIN Salatiga. Kami mendidik para santri sampai sarjana,” ujarnya.

Pihaknya juga sedang menjajaki kerja sama dengan Untidar Kota Magelang agar para santrinya bisa menjalani kuliah di perguruan tinggi negeri di daerah setempat.

“Sehingga selain kuliah, santri sudah bisa membuka usaha mandiri, berwirausaha,” katanya.

Pada Hari Santri Nasional 2016, mereka antara lain menjalani kirab budaya bernuansa Islami dengan nama “Sesanti Santri” mengelilingi jalan kampung-kampung setempat, melakukan upacara bendera dengan inspektur K.H. Abdurrosyid Ahmad.

Selain itu, peringatan juga ditandai dengan pembacaan tahlil, pembacaan puisi berjudul “Rame Ing Gawe Sepi Ing Pamrih” oleh penyair Magelang E.S. Wibowo, teatrikal santri, peluncuran Lembaga Amil Zakat dan Nadzir Wakaf, dan penyerahan wakaf Kitab Suci Al Quran oleh seorang mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta Panglima Zufar kepada perwakilan santri.

Puluhan warga setempat, baik laki-laki maupun perempuan, juga menghadiri peringatan Hari Santri Nasional 2016 yang dilakukan kalangan santri Ponpes Selamat.

Seorang santri berasal dari Desa Maron, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang, Kharim (11), mengaku sejak setahun terakhir menjadi santri di ponpes setempat.

“Di sini, saya selain mengaji dan belajar agama, juga belajar pertukangan dan pertanian. Saya ingin menjadi seperti bapak di desa, menjadi tukang ukir, membuat ukiran mimbar, membuat pintu dan jendela. Menjadi orang yang takwa dan beriman, berguna di dunia maupun akherat,” katanya.

Editor: M Hari Atmoko